Masjid Buntet Pesantren


 Berdirinya  Masjid Buntet Pesantren pada tahun 1758 M, maka masjid Buntet juga dibanguan pada waktu yang sama yaitu akhir Abad ke-18 M. bentuk bangunan Masjid Buntet mirip dengan Masjid Kanoman. Lantai agak tinggi dari permukaan tanah. bagian ruang utama tetap dipertahankan sebagaimana aslinya. Tiang-tiang utamanya juga masih belum berubah. Sebuah mimbar sederhana berada di bagian sisi kiri mihrab. Pada bagian atas pengimaman (mihrab) motifnya mirip dengan yang ada di Masjid Kanoman Cirebon.

Kekhasan
Masjid Buntet Pesantren memiliki arsitektur yang sangat unik. Masjid buntet pesantren dibangun pada masa kepemimpinan K.H. Abdul Jamil. Ada ketentuan untuk  Memasuki masjid tersebut, jamaah harus menaiki lima anak tangga. Katanya ini sebagai simbol rukun Islam.
Masjid yang terletak di tengah wilayah Pondok Buntet Pesantren itu memiliki dua kamar yang berarti dua kalimat syahadat. Dalam masjid ini juga terdapat sembilan pintu sebagai perlambang walisongo. Ruangan dalam pintu sembilan itu didesain memuat 99 orang sebagai simbol asmaul husna. Selain itu, keunikan lainnya terdapat pada atapnya yang terdiri dari tiga tingkatan. Hal ini menandai tingkatan bergama, iman, islam, dan ihsan. Model atapnya hampir mirip dengan atap Masjid Agung Demak. Selain itu, model demikian juga sebagai wujud akulturasi budaya karena kemiripannya dengan pura Hindu.
Mimbar khatib masjid ini juga unik. Setiap Jumat dan hari raya, mimbar tersebut diliputi kain putih. Penulis sampai saat ini belum mengerti kenapa demikian. Apakah hanya berfungsi sebagai penutup celah antar tiang, atau kah ada maksud lain? Wallahu a’lam.
Dulu, di samping masjid terdapat pohon sawo, sekarang sudah ditebang guna pembangunan MTs NU Putri. Menurut salah satu warga Buntet Pesantren, Akhmad Ali Hasyim, pohon tersebut sebagai tanda bahwa di wilayah tersebut terdapat anggota pasukan Pangeran Diponegoro. Kita sekarang tahu, bahwa Pangeran Diponegoro menganut Tarekat Syatariyah. Buntet Pesantren sebelum juga menganut Tarekat Tijaniyyah, sudah lebih dulu menganut Tarekat Syatariyyah sejak Sunan Gunung Jati yang kemudian turun temurun sampai sekarang. K.H. Mutaad, ayahanda K.H. Abdul Jamil, atau menantu pendiri Pondok Buntet Pesantren, merupakan salah satu anggota pasukan Pangeran Diponegoro.
Hal ini juga bisa dilihat di beberapa pesantren lain, seperti Pesantren Gedongan dan Pesantren Benda Kerep. Kedua masjid di dua pesantren tersebut memiliki arsitektur yang hampir sama dengan Masjid  Buntet Pesantren. Namun, masjid Pesantren Gedongan telah direhab sehingga sudah tidak terlihat bentuk aslinya. Sementara itu, Buntet Pesantren dan Benda Kerep masih mempertahankan arsitektur sesuai bentuk aslinya. K.H. Abdullah Abbas di beri tugas dari Kiyai Hamid, meminta agar bentuk masjid tidak diubah. Meskipun tidak besar, Mbah Dulah, panggilan akrab K.H. Abdullah Abbas, berpesan agar tidak dipugar. Putra Kiyai Abbas itu membiarkan bentuk masjid seperti awal di bangun.
Tradisi :
Empat kali dalam setahun, Masjid Buntet Pesantren menggelar sebuah acara yakni pada 
(1) Maulid Nabi Muhammad Saw., tepat pada malam tanggal 12 Rabiul Awal;
(2) Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw., tepat pada malam tanggal 27 Rajab;
(3) Khatmil Quran pada malam tanggal 15 Ramadan
 (4) Khatmil Quran pada malam 28 atau 29 Ramadan.
Gelaran pertama didahului dengan pengajian kitab al-Barzanji karya Syaikh Ja’far al-Barzanji. Para santri menggunakan kitab Madarijus Shu’ud, syarah al-Barzanji, karya Syaikh Nawawi al-Bantani. Kitab tersebut dibaca secara bergantian oleh tujuh kiai selama tiga hari. Puncaknya, di hari keempat, tepat pada malam tanggal 12 Rabiul Awal, seluruh kiai, santri, dan masyarakat Buntet Pesantren berkumpul marhabanan. Usai marhabanan, barulah genjringan ditabuh hingga tengah malam.
Adapun gelaran kedua diawali dengan pengajian kitab Qisshat al-Mi’raj karya Syaikh Dardir. Kitab ini juga dibaca selama tiga hari oleh tujuh kiai yang telah ditunjuk oleh DKM.
Seperti pada umumnya kenduri, kegiatan tersebut juga diramaikan dengan bancakan. Para kiai makan dalam satu nampan, sedangkan santri dibagikan nasi bungkus. Para penabuh genjring dan orang-orang yang turut mendendangkan syair-syairnya juga makan bersama usai gelaran tersebut.



Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Search This Blog