Pejuangan Mbah Muqoyyim dengan Belanda dan di Buntet Pesantren

Saya Alifa Fadilatun Nafisa ini hasil observasi saya bersama teman-teman yang lain adalah Perjuangannya  mbah Muqoyyim pernah di kejar-kejar Belanda, kemudian mbah Muqoyyim lari ke Kota Malang yang berada di daerah Beji. Mbah Muqoyyim berada di Beji, Kota Cirebon terjadi wabah penyakit. Kesultanan Cirebon kebingungan tidak tau harus melakukan apa sedangkan mbah muqoyyim tidak ada,lalu Kesultanan Cirebon memanggil mbah Muqoyyim segera pulang ke Kota Cirebon,Mbah Muqoyyim pun belum menjawab iya. Beliau menjawab iya tetapi ada syaratnya. Kesultanan dan Belanda menjawab Syaratnya apa?  Mbah Muqoyyim Meminta setiap balai desa harus ada masjid. Keseultan dan belanda langsung menyetujui syarat dari mbah muqoyyim dan Belanda menyanggupi dan juga sultan menyanggupi.Setelah itu Mbah Muqoyyim langsung pulang dengan izin Allah SWT untuk menghilang wabah penyakit itu. Kota Cirebon pun wabah penyakit nya langsung hilang setelah Mbah Muqoyyim pulang.
Mbah Muqoyyim dengan mbah Ardisela saling ada kaitannya , mbah Muqoyyim dengan mbah Ardisela itu joinan,bekerjasama,saling berjuang. Apa joinan beliau berdua? Mbah Muqoyyim  itu sebagai griliyawan,jadi masuk keluar hutan perangnya, kalo nyerang keluar hutan  kalo di serang masuk hutan. Kalau Kerjasama dengan mbah Raden Ardisela beliau orang berilmu, beliau sebagai wedana kerja di pemerintahan Belanda. Belanda tidak tahu sama sekali bahwa mbah Ardisela orang alim, seorang alim atau bisa disebut dengan seorang wali. Ketika mbah Muqoyyim di kejar-kejar oleh Belanda kemudian mbah muqoyyim lari ke mbah Ardisela, mbah muqoyyim mencari tempat persembunyian agar tidak diketahui oleh Belanda akhirnya mbah Muqoyyim di masukan ke dalam kantongnya mbah Ardisela, Belandapun mencari-cari mbah muqoyyim dan Belanda tidak mengetahui bahwa mbah muqoyyim bersembunyi di kantongnya mbah Ardisela .
Mbah Muqoyyim sangat kesal dan benci terhadap Belanda karena terus menindas, memeras dan menyengsarakan rakyat, Mbah muqoyyim mencoba pergi ke bagian timur selatan Cirebon untuk mencari tanah perkampungan yang cocok dengan hatinya. Pencarian tanah ini untuk mencari tempat yang  strategis mengembangkan syiar Islam di tanah Cirebon. Di sinilah, tepatnya di kampung Kedungmalang, Desa Buntet, Kecamatan Astanajapura, lalu beliau berpikir ingin mendirikan pesantren yang kemudian pesantren itu dikenal dengan  nama Pesantren Buntet atau Buntet Pesantren.
Mbah Muqoyyim pada mulanya hanya membangun rumah yang sangat sederhana, disertai dengan langgar dan beberapa bilik untuk tempat mbah muqoyyim tinggal dan jauh-jauh dari belanda. Kemudian mbah muqoyyim menggelar pengajian yang akhirnya banyak orang tahu dan ingin menjadi santrinya. Selain mengajarkan tentang agama Islam yang mendalam melalui kitab kuning,Mbah Muqoyyim juga mengajarkan kepada santri dan masyarakat sekitar pesantren ilmu tentang ketatanegaraan yang beliau peroleh dari selama tinggal di Keraton Kanoman Cirebon.
Walaupun pergi meninggalkan Kesultanan Cirebon, tetapi akhirnya Belanda berhasil menemukan Mbah Muqoyyim. Belanda mengetahui Mbah Muqoyyim yang tengah mendirikan sebuah pesantren di timur selatan Cirebon. Belanda mempersiapan untuk penyergapan Mbah Muqoyyim dirapatkan dengan matang, karena Belanda tahu bahwa Mbah Muqoyyim mempunyai kesaktian yang tinggi, sehingga tidak dapat diremehkan.
Menghindari sergapan Belanda yang terus menerus mencarinya, Mbah Muqoyyim kemudian pergi ke beberapa tempat. Dimana mbah muqoyyim pergi menghindari dari Belanda, beliaupun mendirikan sebuah pondok pesantren, yang berada di Sindanglaut dan Pemalang. Setelah di Cirebon kondisinya aman beliau kembali menata Pesantren Buntet, sampai akhirnya mbah muqoyyim wafat dan dimakamkan di Sindanglaut berdekatan dengan mbah Ardisela, yang merupakan  teman seperjuangannya Mbah Muqoyyim.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Search This Blog