Saya Alifa Fadilatun Nafisa ingin
membahas karomah Mbah Muqoyyim, Kesultanan Cirebon berada dalam titik
nadir yang paling rendah, karena perebutan kekuasaan. Ini terjadi setelah angkatnya
Pangeran Girilaya pada tahun 1662 M. pertikaian internal antara Pangeran Sepuh
II dan Pangeran Arya Cirebon menjadi alasan bagi Belanda untuk mencengkramkan
pengaruhnya di kesultanan. Sehingga kesultanan pecah menjadi empat dengan
pemimpinnya sendiri-sendiri.
Ditengah
suasana seperti itu, pada tahun 1689 M Mbah Muqoyyim lahir, di desa srengseng
krangkeng, Karang Ampel Indramayu, beliau adalah putra Kyai Abdul Hadi yang
berdarah kesultanan Cirebon. Diyakini, Mbah Muqoyyim langsung mendapatkan ilmu
secara laduni, tanpa harus melalui proses pembelajaran dulu. Namun, ada juga
pihak yang meyakini bahwa beliau mendapat ilmu agama dari sebuah pesantren di
jawa, tapi tidak terdapat dokumen yang memberikan penjelasan ihwal keberadaan
pesantren tersebut.
Mbah Muqoyyim adalah salah seorang mufti (ahli
agama) di Kesultanan Cirebon, tepatnya mufti dari Sultan Khairuddin I (Sultan
kanoman, ayah dari Sultan Khairuddin II). Jabatan terhormat itu kemudian
ditinggalkannya, semata-mata karena dorongan dan rasa tanggung jawabnya
terhadap agama dan bangsa.
Setelah dewasa,
kemudian mbah Muqoyyim keluar dari keraton kesepuhan. Kenapa keluar dari keraton
kesepuhan? Karena tidak cocok dengan kesultanan kesepuhan, karena bekerja sama
dengan Belanda. Akhirnya mbah Muqoyyim keluar dengan pasukannya, melewati jalan setupatok. Di setupatok
di situ ada sayembara, sekitar zamannya Diponegoro 1846.
Barang siapa yang bisa membendung setu ini akan saya
nikahkan dengan putri saya. Putrinya sangat cantik
sekali lalu, mbah Muqoyyim dengan pasukannya mengacungkan tangan. Dengan izin Allah SWT
mbah Muqoyyim pasang patok, kemudian di glibet ( ikat ) dengan sorbannya
sehingga air itu tidak bobolan ( tidak keluar ) makanya sekarang menjadi
setupatok.
Mbah Muqoyyim yang ketika itu menjadi Mufti
Keraton Kanoman, mengikuti sayembara itu. Tapi dengan niat kemanusiaan, yaitu
menghilangkan banjir. Meski beliau dengan sifatnya yang rendah hati, beliau tidak
ingin mempermalukan penyelenggara. Dengan cara, mbah muqoyyim melakukan
tugasnya untuk membangun bendungan, mbah muqoyyim meminta doa kepada Kyai Entol
.
Seutas
benang yang dikeluarkan dari jubahnya, dibentangkan di beberapa titik yang akan
dibangun bendungan. Kemudian, dengan hentakkan, terciptalah bendungan itu
lengkap dengan dinding batu yang kokoh. Sejak itu penduduk Setu terhindar dari
banjir. Keberhasilan ini tentu saja membuat Mbah Muqoyyim harus menikah dengan
putri Kyai Entol, dan mbah muqoyyim sudah menjadi menantunya.
Dominasi
Belanda terhadap Keraton Cirebon sudah terlalu jauh sehingga masuk dalam
wilayah pengambilan keputusan dan kebijakan keraton, mengobarkan kemarahan Mbah
Muqoyyim. Namun, merasa dirinya hanya Mufti, tindakan perlawanannya tidak
konfrontatif, melainkan berupa pengunduran diri dengan cara meninggalkan
keraton.
Mbah Muqoyyim mendirikan pesantren sebagai pusat penyebaran agama Islam dan basis perlawanan kultural terhadap Belanda, beliau ingin berlanjut di bidang pendidikan mental dan spiritual agar dapat melaksanakan ajaran agama Islam dengan tenang dan menyikapi situasi dengan jernih. Pendidikan mental akan memberikan motivasi yang kuat bagi para santri untuk tidak tunduk pada penjajah Belanda.
Mbah Muqayyim memilih Buntet sebagai lokasi Pesantrennya, yang berjarak 12 KM arah timur dari pusat keraton. Alasan mbah muqoyyim memilih disitu Kuwu Cirebon atau Uwak Syarif Hidayatullah, pernah mendirikan Padepokan. Berkat reputasinya sebagai pemenang sayembara membangun bendungan dan kedudukan Mufti Sultan Kanoman, Pesantren Buntet cepat berkembang.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar