Masjid Agung Buntet Pesantren


        Saya Aniqul fikar menulis pada blog ini sesuai dengan hasil observasi tentang Masjid Agung Buntet Pesantren. Menurut cerita nama buntet berasal dari peristiwa penculikan raja galuh bernama puteri dewi arum sari oleh Jin buto ijo saat berbulan madu Bersama suaminya pangeran legawa, putra Ki Ageng Sela, Puteri Ayum Sari sedang mandi tiba-tiba di culik oleh Jin buto ijo dan di bawa ke hutan karendahwa, setelah berhasil membawa puteri dewi arum sari mereka hendak kembali pulang ke istana. Pangeran legawa teryata tersangkut akar pohon duku sehingga keduanya terjatuh, anehnya setelah peristiwa tersebut pangeran legawa dan puteri dewi arum sari tidak mengetahui arah jalan pulang, setelah kelelahan mencari jalan pulang pangeran legawa dan puteri dewi arum sari memutuskan untuk tinggal di wilayah tesebut dan membuat pesanggrahan dengan nama buntet atau buntu.
Berdasarkan sejarah berdirinya masjid buntet pesantren pada tahun ( 1758 ), maka masjid buntet juga di bangun pada waktu yang sama yaitu pada abad ke-18M. Masjid merupakan tempat sentral dakwah dan merupakan unsur pokok pesantren, buntet sebagai salah satu pesantren tertua juga tak lepas dari sejarah pendirian masjidnya. Masjid Agung Buntet Pesantren merupakan petilasan dari Syekh Syarif Hidayatullah atau yang di kenal sebagai Sunan Gunung Jati. Melihat sejarah Buntet Pesantren, K.H. Abdul Hamid Anas menyebut jika Buntet Pesantren sebagai buq’atun mubarokah, desa yang di berkahi. Beliau pun berpesan kepada ketua dewan khidmat masjid K.H. Ade Nahisul Umam agar menamai masjid tersebut sebagai Masjid Agung, sebab keberkahan nya menjadi petilah Syekh Syarif Hidayatullah.
          Masjid Agung Buntet Pesantren memiliki arsitektur yang sangat unik yaitu pada saat hendak memasuki masjid tersebut jamaah harus menaiki lima anak tangga, konon menurut cerita ini sebagai symbol rukun islam, masjid yang terletak di tengah wilayah pondok buntet pesantren itu memiliki dua kamar mandi yang berarti dua kalimat syahadat. Dalam masjid ini juga terdapat Sembilan pintu sebagai lambang walisongo, ruangan di dalem pintu Sembilan itu di desain memuat 99 orang sebagai simbol asmaul husna, selain itu keunikan lainnya terdapat pada atapnya yang terdiri dari tiga angkatan, yaitu menandai tingkatan beragama, iman, islam, dan ihsan. Model atapnya hamper mirip dengan masjid demak, model demikian juga sebagai wujud akulturasi budaya karena kemiripan nya dengan hindu.
          Terdapat sebuah tradisi empat kali dalam setahun, yaitu melakukan genjringan pada maulid Nabi Muhammad SAW tepat pada malam 12 Rabiul awal, Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tepat pada malam 27 rajab, Khatmil Qur’an pada malam tanggal 15 Ramadan, dan Khatmil Qur’an pada malam 28 dan 29 Ramadan. Gelaran pertama di dahului dengan pengajian kitab al-barzanji, kitab tersebut di baca secara bergantian oleh tujuh kyai selama tiga hari, puncaknya, pada hari keempat tepat pada malam 123 Rabiul Awal seluruh kyai dan santri berkumpul marhabanan. Usai bermahabanan barulah genjringan di tabuh hingga tengah malam. Gelaran kedua di awali dengan pengajian kitab Qisshat al-mi’raz kita ini juga di baca selama tiga hari oleh tujuh kyai yang telah di tunjuk oleh DKM.
          Pendiri pesantren :
1.     Kyai Mutt’ad ( 1785-1852 )
2.     Kyai Abdul Jamil (1842-1919 )
3.     Kyai Abbas ( 1879-1946 )
4.     Kyai Mustahdi Abbas ( 1913-1975 )
5.     Kyai Mustahdi Abbas ( 1975-1988 )
6.     Kyai Abdullah Abbas ( 1988-2007 )
7.     Kyai Nahludin Abbas ( 2007- …...)

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Search This Blog