Di dunia ini banyak sejarah-sejarah
terdahulu yang dikemukakan oleh para penulis ataupun sumber di percaya yang
mempunyai informasi tentang sejarah terdahulu. Kali ini saya ingin mengulas
sejarah Mbah Muqoyyim, walaupun saya di sini tidak mengetahui sejarah yang
sebenarnya. Jadi, sebelum saya mengulas sejara Mbah Muqoyyim, saya meminta maaf
apabila ada sejarah Mbah Muqoyyim yang salah.
Gambar 1.5 Tirakat Mbah Muqoyyim
Kesultanan
Cirebon berada dalam titik nadi yang paling rendah, karena perebutan kekuasaan.
Di tengah suasana seperti itu, pada tahun 1689 M Mbah Muqoyyim lahir, di Desa
Srengseng Krangkeng, Karang Ampel Indramayu. Berdasarkan buku silsilah
pesantren Buntet, beliau adalah putra Kyai Abdul Hadi yang berdarah Kesultanan
Cirebon. Diyakini, Mbah Muqoyyim mendapat ilmu secara laduni (alami),
diperolehnya tanpa melalui proses belajar. Namun, ada juga pihak yang meyakini
bahwa beliau mendapat ilmu agama dari sebuah pesantren di Jawa, tapi tidak
terdapat dokumen yang memberikan penjelasan ihwal keberadaan pesantren
tersebut.
Sebelumnya,
Mbah Muqoyyim mengunjungi tempat-tempat yang pernah disinggahi Syaikh Yusuf Al
Makasari, menantu Sultan Ageng Tirtayasa, yang memerintah Banten. Di
tempat-tempat itu Mbah Muqoyyim bertemu dan berdiskusi dengan murid-murid
Syaikh Yusuf Al Makasari.
Mbah Muqoyyim adalah orang yang
sangat alim. Selain alim, beliau juga produktif menuangkan gagasannya dalam
karyanya. Beliau menulis beberapa buku tentang fiqih, tauhid, dan tasawuf yang
dikirim pada Sultan Kanoman agar dijadikan buku pegangan bagi para pembesar
Keraton dan rakyat Cirebon. Mbah Muqoyyim kemudian diangkat menjadi Mufti.
Selain itu, beliau juga di kenal sakti, tapi rendah hati kepada siapapun, dan
beliau sangat mengedepankan akhlakul karimah.
Warga kota Cirebon pasti mengenal
yang namanya Setupatok, di sinilah awal mula terbentuknya nama Setupatok. Mbah
Muqoyyim menikah dengan Randu Lawang, putri tunggal Kyai Entol Rujitnala, seorang
yang di kenal sakti tapi gagal membuat bendungan penahan banjir yang selalu
menggenangi sungai Nanggela, sehingga daerah Setu selalu kebanjiran bila musim
hujan datang. Kemudian Kyai Entol mengadakan sayembara dengan hadiahnya adalah
menikah dengan putri semata wayangnya.
Pada saat Kyai Entol mengadakan
sayembara, kebetulan Mbah Muqoyyim melewati jalan Setupatok dan ketika itu juga
beliau sudah menjadi Mufti Keraton Kanoman. Beliau mengikuti sayembara yang
diadakan oleh Kyai Entol, tapi dengan niat kemanusiaan, yaitu menghilangkan
banjir yang ada di Setu. Dengan izin Allah SWT, beliau berhasil membangun
bendungan lengkap dengan dinding batu yang kokoh. Sejak itu, penduduk Setu
terhindar dari banjir. Keberhasilan ini membuat Mbah Muqoyyim harus menikah dengan
putri Kyai Entol dan beliaupun menjadi menantunya.
Mbah Muqoyyim kemudian mendirikan
pesantren sebagai pusat penyebaran agama islam dan basis perlawanan kultural
terhadap Belanda. Beliau ingin bergerak di bidang pendidikan mental dan
spiritual agar dapat melaksanakan ajaran agama islam dengan tenang dan
menyikapi situasi dengan jernih. Pendidikan mental akan memberikan motivasi
yang kuat bagi para santri untuk tidak tunduk pada penjajah Belanda.
Mbah Muqoyyim memilih Buntet
sebagai lokasi pesantrennya, yang berjarak 12 KM arah timur dari pusat keraton.
Alasannya, karena disitu Kuwu Cirebon atau Uwak Syarif Hidayatullah, pernah
mendirikan Padepokan. Selama di Cirebon, Mbah Muqoyyim memanfaatkan waktunya
untuk membangun kembali Pesantren Buntet yang berantakan. Tapi Allah SWT
berkehendak lain. Tidak lama kemudian, di tengah usahanya untuk menata kembali
Pesantren Buntet, beliau dipanggil Kehadirat Ilahi Rabbi. Betapa besarnya jasa
beliau semasa hidupnya. Semoga Allah menempatkannya pada tempat mulia disisi-Nya,
Aamiin..






Tidak ada komentar:
Posting Komentar