Saya Aniqul fikar menulis pada blog ini sesuai dengan
hasil observasi tentang Haul Buntet pesantren, atau yang nama lengkap nya adalah Haul
Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren ternyata merupakan sebuah tradisi
yang merentang dalam waktu yang sangat panjang, Haul Buntet sudah diadakan pada
masa kepemimpinan Pondok berada di tangan Kiai Abdul Jamil. Kita sudah
sama-sama mafhum kalau Pondok Buntet Pesantren didirikan oleh Kiai Muqoyyim
yang kemudian kepemimpinannya dilanjutkan oleh Cucu Menantu Beliau yaitu Kiai
Raden Muta’ad, sedangkan Kiai Abdul Jamil adalah putra dari Kiai Muta’ad.
Dengan kata lain, Haul Buntet sudah ada sejak generasi ke 3 Buntet.
Mengenal Haul suatu Pesantren berarti juga mengenal para Ulama Perintis
yang memiliki dedikasi dan semangat juang tinggi untuk Pesantren tersebut.
Mengenal Haul Buntet tentu tidak terlepas dengan mengenang para pendiri, para
perintis Buntet Pesantren, merekalah Guru-guru Kita, Kakek-kakek Kita yang
telah mengorbankan banyak hal demi dakwah islam lewat Pondok Buntet Pesantren.
Putra tertua dari Kiai Abdul Jamil adalah Kiai Abbas, Beliaulah yang kemudian memimpin Buntet Pesantren
selanjutnya. Di masa kepemimpinan Kiai Abbas, pecah perang dunia II. Termasuk
bagian dari perang tersebut adalah perang Asia-Pasifik, karena itu
Indonesia menjadi salah satu medan perang yang diperebutkan oleh ke dua pihak
yang tengah berperang, yaitu Jepang dan Sekutu. Kiai Abbas kemudian
tampil menjadi salah satu “motor” dari gerakan perjuangan tanah air untuk
merebut kemerdekaan. Bersama dengan jejaring pesantren Tanah Air, Beliau
mengobarkan semangat juang dengan berbagai cara, dari mulai pendidikan,
Resolusi Jihad, dan upaya-upaya lainnya. Salah satu upaya yang beliau tempuh
untuk mengobarkan semangat juang adalah lewat Haul. Bersama adik-adiknya
yaitu Kiai Anas, Kiai Ilyas, Kiai
Akyas, dan Kiai Ahmad Zahid, mereka mengadakan Haul dengan tujuan tidak
hanya meng’Haul’i Mbah Muqoyyim dan Mbah Muta’ad (seperti Haul di masa Kiai
Abdul Jamil) tapi juga seluruh Kiai dan warga Buntet Pesantren yang telah wafat
tentunya termasuk abah mereka yaitu KH. Abdul Jamil. Menurut KH. Hasanudin
Kriyani, putra-putra dari KH. Abdul Jamil pertama kali menyelenggarakan
Haul pada tahun 1921, hampir satu abad yang lalu. Pada waktu itu, haul juga
digunakan sebagai wahana untuk terus menjaga idealisme bahwa Mbah Muqoyyim
mendirikan Buntet Pesantren karena tidak ingin kooperatif dengan penjajah dan
idealisme itu akan terus dijaga oleh para penerusnya yaitu Mbah Muta’ad dan
Kiai Abdul Jamil sehingga itu sangat relevan untuk membangkitkan semangat juang
pada masa itu demi mengusir penjajah.
Haul di Buntet sudah
layaknya lebaran kedua bagi masyarakat,santri dan keluarga. Yang berada di
perantauan berusaha sebisa mungkin meluangkan waktu untuk pulang, alumni dan
orangtua santri juga berdatangan, belum lagi beberapa tamu yang datang secara
rombongan menggunakan bus atau angkutan lainnya. Sehingga puluhan ribu orang
tumpah ruah pada acara puncak nanti. Tidak hanya keluarga Kyai yang kedatangan
tamu, semua warga memiliki tamu yang berkunjung ke rumahnya.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar