Buntet Pesantren


Pada kesempatan kali ini, saya Dhita Belinda Virgiane Putri ingin membahas pesantren yang didirikan oleh Mbah Muqoyyim yaitu Buntet Pesantren. Siapa sih yang tidak mengetahui Buntet Pesantren yang ada di Cirebon? Pasti kita tahu kan Buntet Pesantren yang berada di Cirebon atau pernah mendengar dan melihatnya di media sosial.

Gambar 1.2 Buntet Pesantren

Buntet Pesantren merupakan salah satu pesantren tertua di Indonesia. Pondok Buntet Pesantren didirikan sekitar tahun 1758 M, maka masjid Buntet juga dibanguan pada waktu yang sama yaitu akhir Abad ke-18 M dibangun oleh Mufti Keraton Cirebon, yaitu Mbah Muqoyyim. Beliau tidak bertempat tinggal di keraton karena kegigihannya tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Belanda dan menjadi guru kemudian mendirikan pesantren yang kini dikenal dengan Buntet Pesantren.

Buntet Pesantren terletak di Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Berada disebelah timur kota Cirebon, sekitar 8 KM, dari arah Barat letaknya tidak jauh dari pintu Tol Kanci. Banyak ulama nasional yang lahir dari pesantren ini. Namun sedikit sekali yang mengetahui bahwa di Buntet terdapat Masjid tua yang bangunannya mirip dengan Masjid Kanoman yang ada di sebelah barat Alun-alun Kraton Kanoman Cirebon. Lantai agak tinggi dari permukaan tanah. bagian ruang utama tetap dipertahankan sebagaimana aslinya. Tiang-tiang utamanya juga masih belum berubah. Sebuah mimbar sederhana berada di bagian sisi kiri mihrab. Pada bagian atas pengimaman (mihrab) motifnya mirip dengan yang ada di Masjid Kanoman Cirebon.

Pondok Buntet Pesantren ini bersifat tradisional dan modern, dikatakan modern karena mengadopsi sistem sekolah modern seperti Madrasah Ibtidaiyah hingga perguruan tinggi. Adapun tradisional, dikarenakan pondok Buntet ini terus mengkaji kitab-kitrab salafussholeh yang banyak mengupas seputar Al-Quran, Hadits, Tafsir, Balaghoh, Ilmu gramatika bahasa Arab, dan karya-karya Akhlak maupun tasawuf dan fiqh dari para ulama terdahulu.

Pada awalnya Pondok Buntet Pesantren berlokasi di dekat dawuhan Sela kira-kira satu kilometer di sebelah barat lokasi yang ada sekarang, yaitu tepatnya di Blok Sida Bagus Dusun II Desa Buntet. Kondisi fisik bangunan pondok pada awalnya sangat sederhana yang berupa panggung bilik bambu beratapkan ilalang berukuran kira-kira 8x12m. Setelah perlawanan Mbah Muqoyyim dikatahui oleh pemerintah kolonial Belanda, kemudian lokasi tersebut dibakar oleh Belanda. Mbah Muqoyyim berhasil menyelamatkan diri dan terus menyebarkan dan mengembangkan Islam. Beliau memindahkan Pondok Buntet Pesantren ke lokasi seperti sekarang ini. Disamping itu beliau mengembangkan dakwah dengan berpindah-pindah lokasi di antaranya petilasan atau bekas-bekas jejak beliau ada di desa Tuk (Karang Sembung), Pesawahan (Lemah Abang), Desa Beji Pemalang di Jawa Tengah dan daerah lainnya.

Sekolah formal di Buntet Pesantren :
  • Akademi Perawat Buntet Pesantren
  • SMK Mekanika Buntet Pesantren
  • Madrasah Aliyah Negeri (MAN)
  • Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Putera (MANU Putra)
  • Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Puteri (MANU Putri)
  • Madrasah Tsanawiyah  Nahdlatul Ulama Putra I (MTsNU Putra I)
  • Madrasah Tsanawiyah  Nahdlatul Ulama Putra II (MTsNU Putra II)
  • Madrasah Ibtidaiyah
  • Madrasah Diniyah
  • Taman Kanak-Kanak
Di tempat yang sekarang ini berada, Buntet Pesesantren ini posisinya ada di antara dua Desa. Kurang lebih 80% Pesantren ini menjadi wilayah administratif Desa Mertapada Kulon dan sisanya bagian Barat milik Desa Munjul. Pesantren ini sendiri bukanlah nama Desa, melainkan hanya tempat atau padepokan santri. Namun seiring dengan perkembangan zaman, penduduk pesantren ini makin lama makin berkembang dan kepadatannya cukup besar. Sebelah Utara Pesantren ini dibatasi oleh Buntet Desa, sebelah Timur Desa Mertapada (LPI), Sebelah Selatannya adalah Desa Kiliyem dan sebelah Barat adalah Desa Munjul.

Masyarakat Penghuni Pesantren

 Berbeda dengan Pondok Pesantren lain, keberadaan Pesantren Buntet ini cukup unik karena komunitasnya yang homogen (antara santri dan penduduk asli pesantren ini sulit dibedakan) terutama bila dipandang oleh orang lain. Orang yang mengenal atau mengetahui Buntet sebagai sebuah pesantren, ketika bertemu dengan salah seorang lulusan pesantren ini, dianggapnya sebagai santri sehingga kesan yang timbul adalah berdekatan dengan ilmu keagamaan dan ubudiah. Karena memang tidak bisa dipungkiri, baik penduduk asli pesantren ini ataupun santri, keberadaan sehari-hari, tidak lepas dari aktivitas nyantri (mengaji). 

Ada tiga jenis masyarakat penghuni pesantren: Pertama, masyarakat keturunan kyai. Dari catatan silsilah keturunan Kyai Buntet, hampir seluruh Kyai di Pesantren ini adalah anak cucu dari keturunan Syarif Hidayatullah, salah seorang anggota Walisongo. Kedua, Masyarakat biasa. Asal mula mereka adalah para santri atau teman-teman Kyai yang sengaja diundang untuk menetap di Buntet. Mereka memiliki hubungan yang cukup erat bahkan saling menguntungkan (mutualism). Awalnya mereka menjadi khodim (asisten) atau teman-teman Kyai kemudian karena merasa betah akhirnya menikah dan menetap di Buntet Pesantren hingga sekarang. Penduduk Buntet Pesantren yang bukan dari turunan Kyai ini dulunya dikenal dengan istilah masyarakat Magersari. Ketiga, masyarakat santri. Merekalah yang membesarkan nama baik Buntet Pesantren.

Namanya juga perkampungan santri, aktivitas sehari-hari diramaikan oleh hingar-bingar pelajar yang menuntut ilmu. Siang para santri disibukkan dengan belajar di sekolah formal, dan malam harinya belajar kitab atau diskusi tentang agama di masing-masing kyai sesuai kapasitas ilmunya.

Sesepuh Buntet Pesantren

 Dalam perkembangan selanjutnya kepemimpinan Pondok Buntet Pesantren dipimpin oleh seorang Kyai yang seolah-olah membawahi kyai-kyai lainnya yang memimpin masing-masing asrama (pondokan). Segala urusan keluar diserahkan kepada sesepuh ini.

Lebih jelasnya periodisasi kepemimpinan Kyai Sepuh ini berturut-turut hingga sekarang dipimpin oleh Kyai yang dikenal Khos yaitu KH. Abdullah Abbas (kini Almarhum), dan digantikan oleh KH. Nahduddin Abbas. Nama-nama Kyai yang dituakan dalam mengurus Pondok Buntet Pesantren secara turun-termurun adalah sebagai berikut:
1. KH. Muta’ad (Periode pertama)
2. KH. Abdul Jamil
3. KH. Abbas
4. KH. Mustahdi Abbas
5. KH. Mustamid Abbas
6. KH. Abdullah Abbas
7. KH. Nahduddin Abbas (hingga sekarang)
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Search This Blog