Materi
yang saya tulis pada blog kali ini sesuai dengan hasil observasi bersama
teman-teman yang lain adalah tentang objek wisata ziarah yaitu Mbah Muqoyyim,
yang beralamat di Desa Tuk Karangsuwung,
Kecamatan Lemahabang, Kabupaten
Cirebon Jawa Barat. Tujuan dari observasi ini adalah untuk mengetahui perjuangan
beliau semasa hidupnya, seperti profil beliau, karomahnya, perjuangan melawan
Belanda, dan perjuangannya mendirikan Pesantren Buntet. Tujuan yang lainnya
ialah untuk menambah wisatawan yang berkunjung atau berziarah ke makam Mbah
Muqoyyim dan mengetahui banyak hal tentang beliau.
Gambar 1.1 Gerbang
luar makam Mbah Muqoyyim
Menurut kuncen setempat, yaitu Bapak Maki.
Mbah Muqoyyim merupakan salah satu ulama dan juga pendiri Pesantren Buntet Cirebon,
Jawa Barat sekaligus keturunan bangsawan dari Kesultanan Cirebon. Beliau
dilahirkan di Desa Srengseng Krangkeng, Karang Ampel, Indramayu 1689.
Bapak Maki
selaku Kuncen Mbah Muqoyyim saat ini memiliki beberapa tugas sebagai kuncen atau juru kunci yaitu menjaga kawasan
yang dipercaya kepadanya, mengunci semua rahasia buruk dan menjaga semua
kebaikan supaya tetap terjalin hubungan serasi antara masyarakat, adat, dan
alam lingkungan. Ayah Mbah Muqoyyim merupakan sultan keraton kesepuhan dan ibunya berasal
dari Krangkeng,
Indramayu. Menurut cerita, ibunya Mbah Muqoyyim sangat cantik dan anggun. Mbah Muqoyyim dibesarkan di keraton kesepuhan di kehidupan padepokan.
Setelah dewasa, kemudian Mbah Muqoyyim keluar dari Keraton Kesepuhan. Kenapa keluar dari Keraton Kesepuhan? Karena tidak cocok dengan Kesultanan Kesepuhan, sebab Kesultanan
Kesepuhan bekerjasama dengan Belanda. Akhirnya Mbah Muqoyyim keluar dengan pasukannya melewati
jalan Setupatok.
Saat itu di Setupatok ada sayembara sekitar zaman Diponegoro 1846. Isi dari sayembara tersebut yaitu, “Barang siapa yang bisa membendung setu ini akan
saya nikahkan dengan putri saya.” Putrinya sangat
cantik sekali, lalu Mbah Muqoyyim dengan pasukannya mengacungkan tangan.
Dengan izin Allah SWT Mbah
Muqoyyim pasang patok,
kemudian di glibet (ikat)
dengan sorbannya sehingga air itu tidak bobolan (tidak keluar), maka
disebut dengan nama Setupatok hingga saat ini.
Maka tak mengherankan bila Mbah Muqoyyim kemudian diangkat sebagai Mufti (Mufti adalah ulama yang
memiliki wewenang untuk menginterpetasikan teks dan memberikan fatwa kepada
umat). Selain itu Beliau
juga dikenal sakti tapi rendah hati kepada siapapun, Beliau juga sangat
mengedepankan akhlakul karimah. Kemudian, Mbah Muqoyyim melanjutkan perjalanan ke Buntet Pesantren melalui dawuhan Sela. Di Buntet Pesantren Mbah Muqoyyim berkuasa dan wilayahnya Mbah Muqoyyim dari Buntet
Pesantren sebelah kulon
berarti sabrang kulon sampai tanggul sungai sebelah timur mbah Muqoyyim bertapa di situ selama 12
tahun. Beliau berpuasa
selama 4 tahun untuk tanah
sekitarnya, 4 tahun untuk anak cucu nya, 4 tahun untuk para santrinya. Menurut
cerita, Mbah Muqoyyim berbuka
puasa dan sahur dengan dedaunan pucuk daun muda selama 12 tahun. Maka kata Mbah Muqoyyim, “anak Buntet Pesantren itu anak penuh berkah”.
Perjuangannya menurut cerita, Mbah Muqoyyim
pernah di kejar-kejar Belanda,
kemudian Mbah Muqoyyim lari ke Malang di daerah Beji. Ketika Mbah Muqoyyim di Beji, di Cirebon terjadi wabah penyakit. Kesultanan
Cirebon memanggil Mbah Muqoyyim, “Mbah muqoyyim, pulang.” Mbah
Muqoyyim tidak akan pulang jika syaratnya belum terpenuhi, dan syaratnya yaitu,
“Meminta setiap balai desa harus ada masjid.” Belanda
menyanggupinya begitupun
juga dengan Sultan. Jadi, Mbah Muqoyyim pulang dan dengan izin Allah SWT maka wabah penyakit hilang.
Kaitannya dengan Mbah Ardisela dengan Mbah Muqoyyim itu joinan (bekerjasama) berjuang. Apa joinan berjuangnya? Kalau Mbah Muqoyyim
sebagai griliyawan (perangnya masuk keluar
hutan) kalau nyerang
keluar hutan dan kalau di serang
masuk hutan. Kerjasama dengan Mbah Raden Ardisela orang yang berilmu dan sebagai
wedana kerja di Pemerintahan Belanda. Belanda tidak tahu bahwa Mbah Ardisela merupakan seorang alim (wali). Ketika Beliau dikejar Belanda
kemudian lari ke Mbah Ardisela, Beliau dimasukan ke kantongnya mbah Ardisela, sehingga Belanda tidak mengetahuinya. Beliau
berhasil menyelamatkan diri dengan bantuan Kyai Ardi Sela. Beliau dengan
keluarga dan santri-santrinya mengungsi ke daerah Tuk Pesawahan Sindanglaut.
Beliau dan rombongannya disambut oleh adik beliau yang bernama Kyai Isma'il. Di
sinilah beliau mulai mendirikan masjid.
Kenapa Mbah Muqoyyim dimakamkan di Tuk? Karena pada waktu itu di buntet pesantren belum ada kuburan
dan para sesepuh buntet
pesantren, keturunannya
banyak yang dimakamkan di
Tuk. Makam yang di dekat Mbah Muqoyyim itu bukan keturunannya, ada salah satu orang merasa ini bapak
saya, ini keturunan bapak saya, padahal hanya mengurusi pesarean Mbah Muqoyyim, tapi mengaku keturunan Mbah Muqoyyim. Mbah Muqoyyim
itu pendiri Buntet Pesantren dan juga gedongan yang ada di Buntet
Pesantren. Salah satu keturunan yang paling muda yaitu Mbah Abdul Jamil.
Pesantren ini kemudian dijadikan
sebagai pusat penyebaran ajaran islam dan basis perlawanan kultural terhadap Belanda. Selama di Cirebon, Mbah Muqoyyim memanfaatkan waktunya untuk membangun
kembali pesantren yang berantakan, tapi Allah berkehendak lain. Tidak lama kemudian, ditengah usahanya untuk
menata kembali Pesantren
Buntet, Mbah Muqoyyim wafat. Perjuangannya di lanjutkan oleh
kyai-kyai sepuh lainnya di antaranya yaitu, kyai Abbas Buntet yang juga di kenal memilik
karomah dari Allah SWT.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar